• Forums
  • Pernikahan
  • Beauty
  • Tell Stories
  • Manage
  • Kamus
  • Travel
  • Tips


  • Midodareni

    Apa itu midodareni? Midodareni adalah salah satu rangkaian posesi adat pernikahan yang berasal dari daerah jawa. Midodareni berasal dari kata dasar widodari (Jawa) yang berarti bidadari yaitu putri dari sorga yang sangat cantik dan sangat harum baunya. Masyarakat Jawa tradisional percaya bahwa pada malam tersebut, para bidadari dari kayangan akan turun ke bumi dan bertandang ke kediaman calon pengantin wanita, untuk menyempurnakan dan mempercantik pengantin wanita.

    Acara ini merupakan sebuah acara ritual adat pernikahan jawa (selain jawa barat) yang biasanya disandingkan dengan acara seserahan. Pada malam midodareni calon pengantin wanita hanya diperbolehkan berada di dalam kamar pengantin. Dan yang dapat melihat hanya saudara dan tamu yang wanita saja. Para Gadis dan Ibu-ibu.Midodareni biasanya dilaksanakan antara jam 18.00 sampai dengan jam 24.00 ini disebut juga sebagai malam midodareni, calon penganten tidak boleh tidur.

    Pada waktu acara berlangsung pengantin putri mengenakan busana polos artinya dilarang mengenakan perhiasan apa-pun kecuali cincin kawin. Dalam malam midodareni itulah baru dapat dikatakan pengantin dan sebelumnya disebut calon pengantin.

    Pada malam itu pengantin pria datang ke rumah pengantin putri atau di sebut dengan ‘Njonggol’ atau menampakkan diri. Pengantin pria datang dengan membawakan bingkisan untuk pengantin wanita yang berjumlah ganjil. Pemberian bingkisan ini disebut seserahan.

    Setelah pengantin pria datang dengan memperlihatkan sesungguhannya untuk menikahi pengantin wanita, Ibu pengantin wanita mendatangi putrinya untuk menanyakan kemantapan dan kesiapannya menjadi seorang istri, yang disebut “tantingan”.

    Setelah itu orang tua pengantin wanita memberikan wejangan kepada pengantin pria, yang di sebut Catur Wedha. Catur Wedha ini berisi empat pedoman hidup. Diharapkan Catur Wedha ini menjadi bekal untuk calon pengantin dalam mengarungi hidup berumah tangga. Catur Wedha ini merupakan peninggalan nenek moyang suku Jawa yang perlu direnungkan ketika memasuki gapura pernikahan.

    Isi dari catur wedha ini kadang berbeda susunan atau penyebutan di berbagai tempat, namun begitu inti dari ke empat wejangan ini adalah sama. Salah satu empat isi wejangan catur wedha ini antara lain:

    1. HANGAYOMI
    Artinya MELINDUNGI. Lidungilah istrimu dengan sepenuh hati bagaikan perlindungan orangtua kepada putera puterinya sehingga istrimu benar-benar merasa aman, tentram dan damai.

    2. HANGAYANI
    Artinya MENCUKUPI dan MENYEJAHTERAKAN. Berikanlah dan cukupilah seluruh kebutuhan istrimu, tentu dalam batas-batas kemampuanmu, karena sebuah rumah tangga tidak akan langgeng jika tidak dibarengi dengan: KEBERANIAN KEULETAN, KEMANTAPAN dan KEGIGIHAN berusaha dari kepala rumah tangga itu sendiri.

    3. HANGAYEMI
    Artinya MEMBERIKAN KENYAMANAN. Di suatu ketika nanti manakala istrimu meghadapi suatu masalah dalam hidupnya, maka kamu harus dapat memberikan jalan keluarnya serta menghibur hatinya sehingga hari-hari dalam kehidupannya penuh suasana kenyamanan.

    4. HANGANTHI
    Artinya MENUNTUN dan MEMIMPIN. Jadilah penuntun yang setia dan pemimpin yang sejati. Antar, arahkan istrimu ke tempat yang tepat. Perbaikilah kesalahan-kesalahannya, sempurnakanlah apa yang telah mampu dilakukannya sehingga istri ananda akan benar-benar menjadi wanita utama yang selalu:

    * Cinta, sayang, bhakti dan hormat pada suami
    * Sayang dan tanggung jawab pada putera-puteri
    * Sujud dan hormat pada orang tua
    * Dan senantiasa bertakwa kepada Allah SWT

    Kira-kira seperti itu..adapun isi dari pendahuluan dan isi dari penjelsan masing2 item tergantung dari keluarga besar pengantin.

    Kemudian, setelah acara pembacaan catur wedha selesai dilanjutkan dengan acara yang di sebut Wilujengan Majemukan. Wilujengan Majemukan adalah silaturahmi antara keluarga calon pengantin pria dan wanita yang bermakna kerelaan kedua pihak untuk saling berbesanan.

    Selanjutnya ibu calon pengantin wanita menyerahkan angsul-angsul atau oleh-oleh berupa makanan untuk dibawa pulang, orang tua calon pengantin wanita memberikan kepada calon pengantin pria :
    • Kancing gelung : seperangkat pakaian untuk dikenakan pada upacara panggih
    • Sebuah pusaka berbentuk dhuwung atau keris, yang bermakna untuk melindungi keluarganya kelak.

    Saat akan melaksanakan midodaren ada petuah-petuah dan nasihat serta doa-doa dan harapan yang di simbolkan dalam:

    * Sepasang kembarmayang (dipasang di kamar pengantin)
    * Sepasang klemuk ( periuk ) yang diisi dengan bumbu pawon, biji-bijian, empon-empon dan dua helai bangun tulak untuk menutup klemuk tadi
    * Sepasang kendi yang diisi air suci yang cucuknya ditutup dengan daun dadap srep ( tulang daun/ tangkai daun ), Mayang jambe (buah pinang), daun sirih yang dihias dengan kapur.
    * Baki yang berisi potongan daun pandan, parutan kencur, laos, jeruk purut, minyak wangi, baki ini ditaruh dibawah tepat tidur supaya ruangan berbau wangi.

    Adapun dengan selesainya midodareni saat jam 24.00 calon pengantin dan keluarganya bisa makan hidangan yang terdiri dari :

    * Nasi gurih
    * Sepasang ayam yang dimasak lembaran ( ingkung, Jawa )
    * Sambel pecel, sambel pencok, lalapan
    * Krecek
    * Roti tawar, gula jawa
    * Kopi pahit dan teh pahit
    * Rujak degan
    * Dengan lampu juplak minyak kelapa untuk penerangan (zaman dulu)

    Sumber: berbagai sumber (wikipedia .id, Anggraini Wijayanti .doc)

    bwedd’s team

     

     

    Leave a Reply